107.7 FM Radio Budi Luhur Logo Mini

ZONA SPORT

Spanyol Juara Piala Dunia 2026, La Roja Lengkapi Era Dominasi Sepak Bola

Spanyol Juara Piala Dunia 2026, La Roja Lengkapi Era Dominasi Sepak Bola

Spanyol kembali menorehkan sejarah besar di dunia sepak bola. Setelah dua tahun lalu mengangkat trofi Piala Eropa di Berlin, La Roja kini resmi menjadi juara dunia setelah mengalahkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia 2026 di New Jersey, Senin (20/7) dini hari WIB.

Gelar tersebut menjadi trofi Piala Dunia kedua bagi Spanyol setelah sebelumnya menjadi juara pada 2010. Menariknya, pencapaian kali ini kembali mengikuti pola yang sama seperti 16 tahun lalu, ketika Spanyol berhasil menjuarai Euro 2008 sebelum merebut Piala Dunia 2010.

Namun, kemenangan atas Argentina bukan sekadar tambahan satu trofi bagi Spanyol. Gelar tersebut menjadi bagian dari dominasi yang lebih luas, baik di level sepak bola putra maupun putri.

Spanyol kini menjadi negara pertama yang secara bersamaan memegang status juara Piala Dunia putra dan putri. Tim putri La Roja lebih dulu meraih gelar dunia setelah menaklukkan Inggris pada final Piala Dunia Wanita 2023 di Sydney.

Dominasi tersebut juga terlihat dari pencapaian di berbagai kelompok usia. Dalam lima tahun terakhir, sepak bola Spanyol telah mengoleksi 16 gelar dunia dan Eropa mulai dari level U-17 hingga tim senior.

“Ini adalah sebuah dominasi,” ujar pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, kepada BBC Sport.

Menurut Balague, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari konsistensi Spanyol dalam mempertahankan pendekatan sepak bola yang telah mereka bangun. Bagi mereka, kesuksesan bukan sekadar hasil dari satu generasi, melainkan bagian dari sistem yang terus dikembangkan.

Mesin Pengumpul Gelar dari Berbagai Level

Keberhasilan Spanyol di level senior tidak berdiri sendiri. Tim nasional mereka terus menunjukkan prestasi di berbagai kelompok usia, membuat La Roja semakin sulit ditandingi dalam beberapa tahun terakhir.

Di sepak bola putri, tim senior berhasil meraih Piala Dunia 2023 serta dua gelar UEFA Nations League pada 2024 dan 2025. Sementara itu, tim U-20 menjadi juara dunia pada 2022 dan tim U-19 mencatat lima gelar Eropa secara beruntun dari 2022 hingga 2026.

Dominasi tersebut juga terlihat pada kelompok U-17 yang berhasil memenangkan Piala Dunia 2022 dan Kejuaraan Eropa U-17 2024.

Sementara di sektor putra, selain gelar Piala Dunia 2026, Spanyol sebelumnya telah menjuarai Euro 2024 dan UEFA Nations League 2023. Tim U-23 juga berhasil meraih medali emas Olimpiade 2024, sedangkan tim U-19 menjadi juara Eropa pada 2026.

Rentetan prestasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan sepak bola Spanyol tidak hanya bergantung pada satu generasi pemain. Fondasi yang dibangun dari level junior turut menjadi bagian penting dari keberhasilan tim senior.

Keputusan Berisiko yang Berbuah Manis

Di balik keberhasilan tersebut terdapat sosok Luis de la Fuente. Ketika ditunjuk sebagai pelatih kepala tim nasional Spanyol pada Desember 2022, tidak banyak yang memperkirakan ia mampu membawa La Roja meraih tiga gelar besar dalam waktu singkat.

De la Fuente mengambil alih tim setelah Spanyol tersingkir dari Piala Dunia 2022 di Qatar akibat kalah dari Maroko pada babak 16 besar. Kepergian Luis Enrique kemudian membuat Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) memilih De la Fuente sebagai penggantinya.

Keputusan tersebut sempat dianggap berisiko. Pasalnya, De la Fuente belum pernah menangani klub besar sebelum mendapat kepercayaan memimpin tim nasional senior.

Namun, pengalamannya bersama berbagai kelompok usia Spanyol justru menjadi modal penting. Ia sebelumnya pernah menangani tim U-19, U-21, hingga tim Olimpiade. De la Fuente juga telah mengenal banyak pemain sejak mereka masih berada di akademi.

“Ini bukan hanya tim untuk masa kini, tetapi juga tim untuk masa depan,” kata mantan gelandang Spanyol, Juan Mata.

Di bawah kepemimpinannya, Spanyol membangun budaya yang menekankan rasa hormat terhadap lawan, kesabaran, ketenangan, dan kepercayaan terhadap proses.

Hasilnya pun luar biasa. Dalam waktu kurang dari empat tahun, De la Fuente membawa Spanyol menjuarai UEFA Nations League 2023, Euro 2024, dan akhirnya Piala Dunia 2026.

Lebih mengesankan lagi, Spanyol kini tidak terkalahkan dalam 38 pertandingan berturut-turut, menjadi rekor terpanjang yang pernah dicatatkan tim dari Eropa maupun Amerika Selatan dalam sejarah sepak bola internasional.

Final Piala Dunia yang Berlangsung Ketat

Dominasi Spanyol sepanjang turnamen kemudian berlanjut ke pertandingan final. Menghadapi Argentina, La Roja tampil lebih agresif sejak menit awal dan berusaha mengontrol permainan melalui penguasaan bola.

Lamine Yamal bahkan hampir membawa Spanyol unggul ketika pertandingan baru berjalan lima menit. Di sisi lain, Lionel Messi yang menjadi salah satu pemain paling dinantikan justru kesulitan memberikan pengaruh besar terhadap permainan Argentina.

Bagi Messi, yang telah berusia 39 tahun, pertandingan tersebut berpotensi menjadi penampilan terakhirnya di Piala Dunia. Sepanjang laga, kapten Argentina itu harus menghadapi tekanan dari lini tengah dan pertahanan Spanyol.

“Harus diakui, mereka memang lebih baik,” ujar Messi setelah pertandingan.

Meski lebih dominan, Spanyol tidak langsung mampu mencetak gol. Argentina bertahan dengan disiplin dan kiper Emiliano “Emi” Martínez beberapa kali menjadi penyelamat bagi timnya.

Salah satu peluang terbaik Spanyol pada babak pertama datang melalui Mikel Oyarzabal, tetapi tendangannya masih berhasil dihentikan Martínez.

Pertandingan semakin menegangkan setelah Argentina harus bermain dengan 10 pemain akibat Enzo Fernández menerima kartu merah pada masa injury time babak kedua. Kondisi tersebut membuat La Albiceleste harus bertahan hingga memasuki babak tambahan waktu.

Ferran Torres Jadi Penentu di Menit ke-106

Meski unggul jumlah pemain, Spanyol masih harus bekerja keras untuk membongkar pertahanan Argentina. Beberapa peluang emas sempat terbuang sebelum akhirnya kebuntuan pecah pada babak tambahan waktu.

Pada menit ke-106, Ferran Torres berhasil mencetak gol yang mengubah jalannya pertandingan.

Gol tersebut menjadi satu-satunya gol dalam final sekaligus memastikan kemenangan Spanyol dengan skor 1-0. La Roja pun resmi mengangkat trofi Piala Dunia untuk kedua kalinya setelah terakhir kali menjadi juara pada 2010.

Kemenangan tersebut sekaligus mengakhiri penantian 16 tahun Spanyol untuk kembali menjadi penguasa sepak bola dunia.

“Saya percaya hari ini takdir sudah tertulis. Kami memang jauh dari para pendukung kami, tetapi kami berusaha membuat mereka merasa sedekat mungkin dengan kami,” ujar Ferran Torres.

Usai pertandingan, kapten Spanyol Rodri memimpin rekan-rekannya menuju podium untuk menerima trofi. Rodri sendiri dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen setelah tampil konsisten sepanjang kompetisi.

Final yang Sarat Drama di Dalam dan Luar Lapangan

Final Piala Dunia 2026 tidak hanya menarik perhatian karena persaingan di atas lapangan. Pertandingan tersebut juga diwarnai sejumlah momen yang menjadi sorotan.

Salah satunya adalah durasi jeda babak pertama yang lebih panjang dari biasanya. FIFA untuk pertama kalinya menghadirkan pertunjukan halftime bergaya Super Bowl dengan melibatkan sejumlah musisi dunia, termasuk Madonna, Justin Bieber, dan BTS.

Pertunjukan tersebut membuat waktu turun minum berlangsung hampir dua kali lebih lama dibandingkan jeda normal. Meski demikian, tambahan waktu istirahat tidak mengubah pola permainan ketika pertandingan kembali dimulai.

Di luar pertandingan, momen penyerahan trofi juga sempat diwarnai insiden kecil. Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang hadir bersama Presiden FIFA Gianni Infantino mendapat sorakan dari sebagian penonton ketika memasuki lapangan.

Trump juga terlihat berada di atas panggung saat trofi akan diserahkan kepada Spanyol. Rodri beberapa kali terlihat memberi isyarat agar Trump bergeser dari bagian tengah panggung. Tidak lama kemudian, Infantino menghampiri Trump dan mengarahkannya ke sisi panggung sehingga para pemain Spanyol dapat melanjutkan perayaan.

Euforia Kemenangan Spanyol Sampai ke Indonesia

Kemenangan Spanyol juga mendapat sambutan dari para pencinta sepak bola di Indonesia. Euforia tersebut terlihat dalam acara Pesta Juara Bola Dunia yang digelar di Promenade, Senayan Park (Spark), Jakarta.

Acara nonton bareng tersebut mempertemukan para penggemar yang datang mengenakan jersey Spanyol maupun Argentina untuk menyaksikan pertandingan final melalui layar lebar.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa atmosfer Piala Dunia tidak hanya terasa di negara penyelenggara. Pertandingan final antara Spanyol dan Argentina juga mampu menghadirkan pengalaman dan perayaan bagi para penggemar sepak bola ribuan kilometer dari New Jersey.

Menutup Piala Dunia dengan Sejumlah Cerita

Final Spanyol dan Argentina menjadi penutup dari turnamen yang menghadirkan banyak cerita. Selain perjalanan La Roja menuju gelar juara, Piala Dunia 2026 juga diwarnai kejutan dari sejumlah negara, persaingan dalam perebutan gelar pencetak gol terbanyak, serta tersingkirnya beberapa tim unggulan.

Di luar lapangan, turnamen juga tidak terlepas dari persoalan politik dan kontroversi. Larangan masuk ke Amerika Serikat terhadap wasit asal Somalia, Omar Artan, serta persoalan yang melibatkan Timnas Iran menjadi bagian dari sorotan selama turnamen berlangsung.

Keterlibatan Presiden Trump dalam upaya mencabut hukuman larangan bermain bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, juga kembali memunculkan pertanyaan mengenai independensi dan tata kelola FIFA.

Namun, pada akhirnya perhatian kembali tertuju pada apa yang terjadi di lapangan. Spanyol berhasil mengalahkan Argentina 1-0 dan menutup Piala Dunia 2026 dengan trofi di tangan.

Bagi La Roja, kemenangan ini bukan sekadar gelar kedua dalam sejarah. Piala Dunia 2026 menjadi penegasan bahwa sepak bola Spanyol tengah berada dalam salah satu periode terbaiknya dengan keberhasilan yang dibangun dari level junior hingga tim senior, baik putra maupun putri.

Dengan fondasi tersebut, dominasi Spanyol tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Share this:

Bagikan Artikel Ini

Salin tautan di bawah ini untuk membagikan kepada teman-teman kampusmu:

Related