Sharing Session “Bijak Bermedia Sosial ala Bang Geeek”
Jakarta, 13 Oktober 2025 – Fakultas Komunikasi dan Desain Kreatif Universitas Budi Luhur menghadirkan sharing session inspiratif bertajuk “Bijak Bermedia Sosial ala Bang Geeek.” Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami sisi emosional dan psikologis dalam bermedia sosial, sebuah aspek yang kerap kurang disadari di tengah derasnya arus digitalisasi. Melalui sesi ini, mahasiswa diajak untuk meninjau ulang cara mereka berinteraksi di dunia maya, memahami dampak psikologis dari penggunaan media sosial, serta membangun kesadaran digital yang lebih bijak dan berempati.
Dipandu oleh Julaiha Probo Anggraini, M. Kom sebagai moderator, sesi ini menghadirkan Dr. Geofakta Razali, S.Psi, S.I.Kom, M.I.Kom atau yang lebih akrab dikenal dengan sebutan Bang Geeek. Beliau seorang konten kreator sekaligus pemerhati budaya digital yang mengajak audiens untuk meninjau ulang hubungan manusia dengan media sosial, melalui topik yang memadukan sains, refleksi, dan empati.
Dalam materinya berjudul “Dunia Digital: Cermin yang Retak,” Bang Geeek menggambarkan bahwa media sosial kini bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ruang di mana manusia menegosiasikan makna dirinya sendiri.
“Kita tidak sedang melihat dunia, kita sedang melihat diri yang belum selesai,” ujar Bang Geeek. “Setiap like dan komentar memicu sensasi kecil dari hormon dopamin yang membuat kita terus mencari validasi, bukan karena butuh informasi, tapi karena ingin diakui.”
Fenomena ini dikenal sebagai Dopamine Effect, di mana interaksi digital menciptakan rasa senang instan, namun juga menimbulkan ketergantungan emosional terhadap notifikasi dan pengakuan sosial. Ketika tubuh terus terpapar stimulasi digital tanpa jeda, sistem saraf justru membaca ancaman alih-alih koneksi.
Untuk menyeimbangkan hal itu, Bang Geeek menekankan pentingnya self-regulation yaitu kemampuan mengenali pola reaksi diri, menahan impuls untuk langsung menilai atau membalas, dan memberi waktu bagi pikiran untuk mendengar sebelum bereaksi.
“Kebijaksanaan digital bukan tentang keluar dari media sosial, tapi hadir dengan kesadaran penuh di dalamnya,” katanya. Selain itu, diskusi juga menyoroti pentingnya empati digital, yaitu kemampuan membaca emosi di balik teks dan unggahan yang sering kali datar dan tanpa konteks. Menurut Bang Geeek, empati kini menjadi keterampilan interpretatif atau kemampuan untuk merasakan tanpa harus melihat.

