Revolusi Gaya Sang Raja Pop: Bagaimana Jaafar Jackson Menghidupkan Kembali Warisan Fashion Michael Jackson

Dunia perfilman global sedang bersiap menyambut salah satu biopik paling ambisius dalam sejarah modern, yaitu film Michael yang dijadwalkan tayang pada tahun 2025. Di bawah arahan sutradara visioner Antoine Fuqua, proyek ini tidak hanya berusaha menangkap esensi vokal dan gerakan tari Michael Jackson, tetapi juga melakukan upaya luar biasa untuk merekonstruksi setiap jengkal sejarah mode yang pernah diciptakan oleh sang “King of Pop”. Fokus utama dari perbincangan industri fashion saat ini tertuju pada sang pemeran utama, Jaafar Jackson, yang merupakan keponakan kandung Michael. Jaafar memikul beban sejarah yang besar untuk menghidupkan kembali karakter pamannya melalui pendekatan yang sangat mendalam, mulai dari riset perilaku hingga penggunaan kostum-kostum teatrikal yang menjadi identitas global Michael Jackson selama berdekade-dekade.

Dalam proses produksi yang berlangsung intens, perhatian terhadap detail kostum menjadi prioritas utama produser untuk menjamin otentisitas visual. Salah satu aspek yang paling mencolok adalah bagaimana film ini membagi periode mode Michael ke dalam beberapa era emas yang sangat spesifik. Melalui foto-foto pertama yang dirilis dari lokasi syuting, publik telah diberikan bocoran mengenai replika busana yang sangat presisi dari era Dangerous. Jaafar terlihat mengenakan jaket putih ikonik yang dipadukan dengan atasan serba putih, sebuah gaya yang secara langsung merujuk pada penampilan legendaris Michael saat membawakan lagu “Man in the Mirror” dalam tur dunia Dangerous tahun 1992 hingga 1993. Kostum ini bukan sekadar pakaian, melainkan simbol kemanusiaan dan spiritualitas yang ingin ditonjolkan Michael pada masa itu, dan tim produksi berhasil menangkap tekstur serta siluet aslinya dengan sangat akurat.

Selain kemegahan di atas panggung, film ini juga menggali sisi kasual namun tetap ikonik dari era Bad di tahun 1980-an. Jaafar Jackson sempat tertangkap kamera mengenakan jaket varsity berwarna merah dan putih yang dilengkapi dengan patch atau lencana khusus. Jaket ini mencerminkan gaya “off-duty” Michael yang sangat populer di kalangan anak muda zaman itu, memperlihatkan sisi Michael yang lebih santai saat sedang bepergian namun tetap mempertahankan karisma seorang bintang besar. Kehadiran busana ini dalam film membuktikan bahwa desainer kostum Marci Rodgers tidak hanya fokus pada pakaian konser, tetapi juga pada bagaimana Michael membentuk tren mode sehari-hari yang bertahan selama puluhan tahun. Rodgers bekerja dengan dedikasi tinggi untuk memastikan bahwa setiap kancing, ritsleting, hingga bahan kain yang digunakan sesuai dengan apa yang pernah dikenakan oleh Michael di masa lalu.

Bagi Jaafar Jackson sendiri, mengenakan pakaian-pakaian ini memberikan pengalaman emosional yang tak ternilai harganya. Meskipun ia tumbuh besar dengan mengenal Michael secara pribadi, ia mengakui bahwa mengenakan replika jaket Thriller atau setelan berkilau dari penampilan Billie Jean di acara Motown 25 memberinya perspektif baru yang lebih dalam. Jaafar mengungkapkan bahwa melalui pakaian tersebut, ia mulai memahami betapa spesifik dan detailnya Michael Jackson dalam memikirkan bagaimana sebuah busana harus bergerak seirama dengan tarian di atas panggung. Setiap rumbai, bahan kulit, dan elemen militer pada jaketnya dirancang bukan hanya untuk estetika, melainkan untuk memperkuat narasi setiap lagu yang dibawakan. Jaafar menghabiskan waktu dua tahun untuk mempersiapkan peran ini, termasuk melakukan bedah mendalam terhadap arsip video dan tulisan pribadi Michael untuk memahami titik pandang sang paman sejak masa Jackson 5 hingga mencapai puncak popularitas sebagai orang dewasa.

Transisi mode ini juga terbawa hingga ke kehidupan nyata Jaafar selama masa promosi film. Menariknya, ia tidak hanya mengenakan kostum saat di depan kamera, tetapi juga mengadopsi konsep yang dikenal sebagai method dressing saat tampil di acara-acara publik. Bekerja sama dengan penata gaya ternama Ilaria Urbinati, Jaafar mulai mengkurasi lemari pakaian pribadinya untuk acara pers dengan gaya yang modern namun tetap memberikan penghormatan halus kepada estetika MJ. Hal ini terlihat dari pemilihan potongan busana yang memiliki garis bahu tegas atau detail militer yang subtle, menciptakan jembatan antara masa lalu yang legendaris dan gaya kontemporer saat ini. Jaafar merasa bahwa pendekatan ini adalah cara terbaik baginya untuk merayakan warisan sang paman sambil tetap menjadi dirinya sendiri sebagai seorang artis yang sedang naik daun.