Fenomena Kemarau Basah Terjadi di Indonesia

Fenomena

Pada bulan April hingga Juni tahun ini, masyarakat Indonesia seharusnya merasakan musim kemarau dengan cuaca yang kering, langit cerah, ataupun suhu udara yang panas. Realitanya, kini Indonesia mengalami musim kemarau basah. Fenomena di mana musim kemarau terjadi namun masih disertai curah hujan yang tinggi, melebihi 100 milimeter per bulan, padahal secara klimatologis musim kemarau di Indonesia biasanya memiliki curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan. Fenomena ini diamati dan diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia, yang juga memberikan informasi terkait dampak dan wilayah terdampak.

Penyebab terjadinya musim kemarau basah bukan hanya karena kelembapan udara yang tinggi di tengah musim kemarau. Melainkan, bisa terjadi juga karena suhu muka laut yang tetap hangat di sekitar Indonesia, pengaruh fenomena iklim global seperti La NiƱa dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby, serta dampak perubahan iklim jangka panjang yang membuat atmosfer lebih lembab dan tidak stabil. Wilayah yang paling terdampak oleh fenomena kemarau basah di Indonesia adalah daerah dengan pola hujan monsunal, yaitu Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Secara keseluruhan, sekitar 26 persen wilayah Indonesia (185 Zona Musim) diprediksi mengalami musim kemarau dengan curah hujan lebih tinggi dari biasanya, yang menandai kemarau basah.
Dikarenakan ada perubahan musim saat ini, ada beberapa dampak yang terjadi di Indonesia karena musim tersebut, yaitu: