Ketika Hutan Menjadi Bara: Kabut Asap dan Luka yang Melintasi Batas Negeri
Indonesia - Hutan yang semestinya menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, kini menghadapi sebuah ancaman kebakaran yang belum sepenuhnya mereda. Memasuki waktu pertengahan Oktober 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia,mulai dari Sumatera Hingga Kalimantan dan Papua. Dampaknya bukan hanya merusak ekosistem saja, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat, kualitas udara, dan keselamatan warga.
Dilansir dari Reuters pada 15 Oktober 2026, Indonesia menghadapi kebakaran hutan terburuk sejak 2025. Kondisi tersebut diperparah oleh kekeringan akibat adanya fenomena El Nino yang membuat vegetasi dan lahan gambut lebih mudah terbakar.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian khusus, terutama di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Pada Minggu (18/10/2026), Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, melaporkan bahwa operasi pemadaman melalui pengeboman air (water bombing) telah dilakukan sebanyak 26 kali, meningkat dari 16 kali pada hari sebelumnya. Sementara itu, penanganan karhutla di Sumatera Selatan terus dilakukan melalui koordinasi dengan Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI. Pada 16-25 Oktober 2026, pemerintah menjalankan sebuah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menggunakan dry ice atau es kering guna untuk membantu mengurangi penumpukan asap di dekat pemukiman. Menurut Kementerian Kehutanan, pemantauan pada 17 Oktober menunjukkan adanya perbaikan jarak pandang di Palembang selama pelaksanaan operasi.
Dampak asap turut menjadi perhatian di wilayah lain. Pada 17 Oktober, BMKG menyatakan bahwa sebaran asap karhutla yang sempat memasuki wilayah Jabodetabek mulai bergerak menjauh. Meski demikian, sisa sebaran asap masih terdeteksi di pesisir Barat Banten pada ketinggian sekitar 10.000-18.000 kaki. Di Papua, Kementerian Perhubungan juga memantau potensi dampak kabut asap terhadap operasional 16 bandar udara karena jarak pandang yang terbatas dan dapat mengganggu keselamatan penerbangan. Ancaman juga datang dari kebakaran yang merambah ke kawasan permukiman. Reuters melaporkan, pada 12 Oktober 2026 terjadi kebakaran di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan menghancurkan sedikitnya 300 rumah dan mengharuskan sekitar 500 warga mengungsi. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa karhutla bukan semata persoalan kawasan hutan, melainkan juga ancaman langsung terhadap keselamatan kehidupan dan juga kesehatan masyarakat. Lebih dari 283.000 kasus gangguan pernapasan tercatat di tujuh provinsi di Indonesia.
Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia juga bahkan sampai memengaruhi kualitas udara sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, dan Timor-Leste.
Karhutla menjadi sebuah persoalan yang membutuhkan penanganan dari lintas sektor dan kerja sama regional. Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, serta perlindungan masyarakat yang terdampak perlu berjalan beriringan agar bencana serupa tidak terus terulang. Ketika hutan berubah menjadi bara, yang hilang bukan hanya pepohonan, melainkan juga ruang hidup, udara bersih, dan keseimbangan alam. Jadi nih warga kampus, kabut asap yang melintasi batas negara menjadi sebuah pengingat, bahwa kerusakan lingkungan tidak mengenal letak geografis. Menjaga hutan hari ini, berarti melindungi kehidupan yang akan datang.
Source:
ANTARA News, detikNews, Reuters.