RadioBudiLuhur.com – Warga kampus, RUU Permusikan tengah ramai dibicarakan selain pemilihan presiden        yang akan datang dibulan april nanti. Banyak anak muda maupun pelaku musik yang mengkritik isi dari
RUU Permusikan. Sosial media menjadi tempat aspirasi dari pendapat tersebut disuarakan. Nah,
namun apa kata para ahli tentang RUU Permusikan?

Sebelum masuk kedalam pandangan para ahli mengenai RUU Permusikan, mari kita ketahui
dulu apa itu RUU Permusikan. RUU Permusikan adalah Rancangan Undang – Undang permusikan
Indonesia yang masuk dalam daftar Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2019. RUU Permusikan
banyak ditentang pada sejumlah 17 pasalnya.

Beberapa musisi Indonesia menentang kebijakan didalam RUU Permusikan. Pasal 5
menyatakan seorang musisi dilarang menciptakan lagu yang menista, melecehkan, dan
memprovokasi. Cholil Muhammad, vokalis Efek Rumah Kaca memiliki pendapat bahwa kalimat yang
dimuat dalam pasal tersebut memiliki multitafsir, sehingga memudahkan ruang bagi kelompok
penguasa untuk mengeksekusi secara subjektif.

Pasal 10 mensyaratkan sertifikasi pekerja musik. Jason Ranti musisi independen berpendapat                             bahwa hal tersebut justru mendukung industri besar dan menghilangkan ruang bagi
musisi independen.

RUU Permusikan membagi musisi menjadi beberapa kelompok, ada yang setuju, setuju
dengan revisi, dan ada pula yang menolak secara tegas. Namun, apa kata para ahli mengenai RUU
Permusikan. Profesor Musik Tjut Nyak Deviana berpendapat bahwa pihak yang merancang RUU
Permusikan, yaitu Badan Keahlian Dewan (BKD), sama sekali tidak mengerti musik. Dia juga beropini
bahwa perancangan RUU Permusikan tidak didasari masukan dari pakar musik.

Kemudian, Profesor Musik Tjut Nyak Deviana sangat mengkritik pasal 5 yang dianggapnya lucu,
Pasal 5 ini lucu, musik itu sendiri budaya asing, ayat huruf f ini seharusnya dijelaskan. Budaya asing
dari mana yang dilarang, kalau dari negara tertentu disebutkan,kata Deviana kepada media CNN
Indonesia.
Selain pakar musik yang berasal dari Indonesia, Professor dangdut dan musik underground
dari Bowling Green State University, Ohio, Amerika Serikat Jeremy Wallach ikut berkomentar.
Menurutnya, “Jadi, kasihan kalau (musisi Indonesia) dibungkam gara-gara taktik politik begini,"
komentarnya yang disampaikan kepada koresponden Tribun News.

Oleh sebab itu pertanyaannya adalah, apakah RUU Permusikan merupakan rancangan
undang – undang untuk memihak kepada suatu kaum tertentu? Atau justru BKD tidak memiliki riset
yang begitu mendalam untuk merancang hal tersebut. Atau perancangan RUU Permusikan hanya
didasari pemikiran subjektif oleh perancangnya ?
Nah, untuk warga kampus bagaimana pendapat kalian ?dan diposisi apa kalian berada ?
netral, setuju, atau tidak setuju ?

Follow me

Maya Ayesha

Mahasiswa at Budi Luhur
Veteran directioner yang dengerin musik - musik joe hisaishi, dan suka bahasa - bahasa penjajah (Jepang & Spanyol)
Maya Ayesha
Follow me